Di Pertigaan Jalan Ini

Posted: 12 Mei 2013 in Tercecer Pena
Tag:

tl

Aku berdiri menatap jauh ke arah pintu tol, sesekali memerhati bis yang keluar. Ku masukan tangan ke dalam saku celana yang kosong hanya karena tidak ingin orang lain tahu bahwa aku sedang menggenggam kehampaan. Saat itu masih pagi. Fajar sudah terbit namun sinarnya belum terasa sampe ke kulit. Yang kulakukan hanya berdiri setengah kedinginan.

Sebagian besar waktu aku habiskan di sini. Di pertigaan jalan ini, dimana aku selalu menunggumu, menjemputmu yang keluar turun dari pintu bis itu.

Kamu turun dari bis, seraya melambaikan tangan ke arahku. Aku tersenyum tapi lebih memilih tersenyum dalam hati. Aku tau, tersenyum dalam hati itu lebih berarti, karena ketika hati yang tersenyum aku tidak perlu repot-repot membengkokan garis bibirku, dengan sendirinya itu akan terjadi.

Tapi terkadang senyuman itu memang perlu, walaupun sekedar membohongi hati.

Berdiriku di sini selalu berarti. Berarti buatmu, terlebih untukku sendiri. Kelelahanku tak pernah sia-sia. Wajahmu yang kecapean selalu tampak bersinar di mataku.

Kamu berjalan menghampiriku, ketika hanya beberapa langkah lagi kamu datang padaku, aku tersentak, tersadarkan oleh kenyataan. Sayangnya itu semua hanya terjadi di pikiranku. Hanya film rekaman ulang masa lalu, yang tanpa sadar terputarkan kembali di dalam benak. Aku melihat sekeliling, semua kembali normal. Tak pernah ada kamu lagi yang menghampiriku. Tak pernah ada lagi bis yang aku tunggu, pagi ini. Setelah aku tersadar, aku tau, embun tak selalu turun dari pucuk daun, tapi juga di daun yang lain, daun yang bunganya berbentuk bulat coklat kehitaman dan tlah sayu.
Di mataku.

mtblur

Hanya pada saat itu aku merasa kamu ada di sisi, walaupun kamu sekarang telah bersama sisi yang lain. Berdiri di sini merupakan hiburan tersendiri bagiku. Setiap selepas subuh aku selalu berdiri di sini. Hingga cahaya mentari datang, baru aku beranjak pulang.

p3jln

Posted by Zaqiun

Film Masa Lalu

Posted: 28 Maret 2013 in Tercecer Pena

tr2.jpg
Image by Teriyad

Ketika malam semakin larut, dan kamu hendak tidur. Mencoba memejamkan mata, namun belum benar-benar terlelap, malah… Dengan kelopak mata yang tertutup, kamu lebih bisa melihat dengan jelas. Tentang dia.
Iya…! Selalu tentang dia.
Setidaknya aku pernah, eh, kadang-kadang. mMm… Kalau boleh jujur sih, sebenarnya sering. Mungkin lebih tepatnya begitu.

Tentang dia, sekali lagi.
Kamu melihatnya dengan jelas, bahkan bukan hanya dia, tapi ada sosok yang menyerupaimu. Kamu boleh menyebutnya “Itu Aku”

Sadar atau tidak, yang kamu lakukan adalah memutar film masa lalu yang sebagian besar, itu adalah kenangan atau mungkin seluruhnya. Ya… Seluruhnya memang berisi kenangan. Hatimu setengah menjerit dan berbisik “Aku tidak ingin menontonnya lagi. Sudah ribuan kali aku menontonnya dan aku sudah muak.” tapi sayangnya kamu gak pernah punya remote untuk mematikan film itu.

Matamu masih terpejam, namun lagi-lagi kamu belum benar-benar tertidur. Kadang merasa heran. Ingin lekas tertidur hingga film kenangan ini segera terlewati begitu saja, tapi justru malah sebaliknya. Kelopak mata yang tertutup seakan menjadi layar seperti halnya di gedung-gedung bioskop atau mungkin bahkan lebih besar lagi ukurannya.

Semakin lama kamu menyaksikannya, membuatmu setengah menikmati dan setengah ingin berhenti. Karena banyak hal indah di dalamnya yang diselimuti baluran luka. Tak jarang kamu merobek baluran luka itu sendiri hanya untuk melihat hal indah, tapi sering kali pula kamu tak sampai. Baru setengah perjalanan merobek luka, malah dihadang logika.

Sudahlah, itu hanya akan membuat hatimu berada dalam posisi yang lebih tersakiti. Hingga akhirnya kamu memutuskan untuk berhenti. Dengan posisi tersadar walau mata masih terpejam, pelan-pelan kamu membuka mata, tapi yang ada malah kesakitan yang lebih nyata.

Hingga pagi menjelang, kamu pun masih terjaga.

tr1.jpg
Image by Teriyad

Posted by Zaqiun

Privasi

Posted: 23 Maret 2013 in Tercecer Pena

privasi1.jpg

Privasi. Apa sih privasi itu?
Ada sebagian orang bilang “Hargain dong privasi aku”, “aku juga punya privasi”, “blablabla”. Memang pada dasarnya manusia itu ingin bebas. Jadi privasi itu kebebasan? mMm… Mungkin, ah nggak juga.
Ada orang yang berbicara privasi. Katanya privasi itu hak, privasi itu sesuatu hal yang tidak boleh diketahui orang lain, privasi itu rahasia. Banyak orang menyalah gunakan arti kata privasi. Bahkan ada juga orang yang berlindung dibalik privasi supaya mendapat kebebasan. Apakah wujud privasi sekarang seperti itu??? Privasinya yang salah? Orangnya? Atau cara orang itu mengartikan dan mengaplikasikan keprivasiannya yang salah???

Misalnya sepasang kekasih, memang keprivasian itu erat hubungannya dengan orang yang sedang berkasih-kasih. Memang benar kan??? Tapi gak tau, apa privasi itu privasi asli atau privasi kedok? Cuma bualan perlindungan diri untuk mendapat kebebasan? Ah, lagi-lagi kebebasan… Agak sulit memang, kalau berbicara tentang kebebasan, ya… Karena setiap orang punya HAM, yang katanya Hak Asasi Manusia, tapi aku juga pernah melihat, ketika ada cowok atau cewek yang melihat hp pasangannya, dibilangnya “gak ngehargain privasi orang”, tapi emang iya juga sih. Ngapain lihat-lihat hp pasangan kita??

Entah emang iya omongan itu keluar dari hati atau dalam artian privasi sesungguhnya atau cuma kedok dan bualan belaka, seperti tadi yang aku bilang cuma kedok dan bualan karena ada sesuatu yang disembunyikan, takut ketahuan. Padahal ada kata-kata bijak yang sudah lahir sejak dulu “Berani karena benar, takut karena salah”

Jadi jelaslah yang dibutuhkan di sini kesetiaan. Memang sudah kodratnya segala hal yang ada diciptakakan berpasang-pasangan. Ada siang, ada malam. Ada laki-laki, ada perempuan. Ada basah, ada kering. Lantas pasangannya setia apa? Tidak setia? Yah… Itu memang jawaban yang dirasa paling simple, sederhana, dan langsung tepat ke sasaran, tapi kadang tidak setia itu juga bisa ditutupi dengan cara halus. Mengorbankan hal lain untuk menutupi ketidak setiaannya. Ya seperti yang tadi. “Hargain dong privasi aku”

Nah itu dia. Biasanya alasan yang lumrah diucapkan. Jadi pasangannya “setia” itu bukan cuma “tidak setia”, tapi kata privasi yang disalah artikan. Ya memang disalah artikan, menggunakan kata privasi untuk menutupi kejelekannya, untuk berbuat tidak setia, selingkuh, untuk berbuat curang, untuk mendapatkan kebebasan.

Jangan coba tutup mata deh, itu kenyataan yang terjadi sekarang kan?
Logikanya aja gini yah! “Berani karena benar, takut karena salah”
jadi untuk apa takut, untuk apa berbual “hargain dong privasi aku” kecuali ya karena emang takut.
Takut apa? Ya gak tau, takut ketahuan, takut apa kek, yang pasti TAKUT. Ya mungkin karena salah.

Jadi privasi itu apa???
Ambil sederhananya aja deh!!! Malu gak kalau kita keluar rumah gak pakai baju, gak pakai celana, gak pakai apa-apa? Kalau jawabannya tidak, sebaiknya periksakan dulu ke dokter jiwa, mungkin ada kelainan. Untuk ukuran orang normal, sehat dalam artian lahir batin, ya pasti malu lah. Nah makanya pakai baju, celana. Supaya semua aurat tertutup. Dan gak jadi tontonan umum. Ya mungkin seperti itulah privasi.

Posted by Zaqiun

Bodoh!? Demi Kamu

Posted: 4 Maret 2013 in Tercecer Pena

tb2.jpg

Terkadang aku bertanya kepada diri sendiri, tentang apa yang telah aku lakukan, kepada aku, kamu, kita.
Beberapa orang teman bahkan sahabat dekatmu sendiri pun mengklaim diriku bodoh.
Yah… Aku memang bodoh, membiarkan keegoisanmu menguasai diriku. Membenarkan sudut pandangmu, walau secara logika pernyataanmu itu salah. Aku rela membiarkan diriku kalah dihadapanmu, karena kekalahan dari dirimu adalah kemenangan besar buatku.

Aku tahu, yang kamu lakukan membohongi aku, tapi aku selalu pura-pura tidak tahu. Mengabaikan begitu saja, padahal hati berteriak jika saja kamu bisa mendengarnya.
Itu untuk yang kesekian kalinya.

Hatimu dimana??? Logikamu gak berjalan???

Belakangan akhirnya aku sadar, rasa lah yang membuka mataku. Aku tidak lagi membiarkan diriku kalah, bukan maksud mengalahkanmu. Aku sadar ini soal cinta, tapi apakah kamu juga sadar bahwa cinta itu bukan terdiri dari seorang pemenang dan seorang yang kalah di dalamnya??? Tapi yang saling mengerti tentang rasa.

Ketika akhirnya aku sadar kamu pun tersadar, tapi bukan kesadaran yang sama denganku. Kamu sadar bahwa aku sekarang tak bisa lagi dibodohi olehmu. Kamu salah besar soal itu! Kamu tak pernah membodohiku, cuma aku saja yang selalu berpura-pura bodoh dihadapanmu.

Hingga akhirnya kamu memutuskan pergi oleh sebab itu. Dan aku yang selama ini bodoh dan berpura-pura bodoh dihadapanmu, harus kehilanganmu karena kesadaranku.

Andai saja aku masih punya kesempatan satu kali lagi untuk selalu berpura-pura terlihat bodoh dihadapanmu.
Mungkin… Memang lebih baik terlihat bodoh dan tak pernah sadar daripada harus kehilanganmu. Hmm… Mungkin!?

tb1.jpg

Posted by Zaqiun

Kamu gak akan pernah tahu. Hari demi hari yang aku jalani. Malam demi malam yang aku lewati. Mungkin kamu memang gak ingin tahu. Selama ini aku selalu berpura-pura. Hingga antara aku dan kepura-puraan ini hampir tak ada jeda sedikit pun. Sekarang aku punya karakter baru, watak baru, ciri khas baru, dan tentunya peran baru.

“Pura-pura”
Yah tepat! Itulah aku.

Aku selalu berakting di duniaku sendiri, tanpa menghafalkan dulu naskah, tanpa pengambilan gambar, tanpa seruan “Actian” diawal maupun “Cut” diakhir adegan oleh sang sutradara, dan tentunya tanpa bayaran per episode pula.

film.jpg

Kamu tahu??? Ah sudahlah rasanya aku tak perlu bertanya seperti itu lagi, karena aku yakin kamu gak akan pernah tahu dan mungkin malah gak ingin tahu.

Sebenarnya aku masih berkendala dengan salah satu adegan.

“Tersenyum”
Perlu kerja keras untuk menghasilkan adegan itu terlihat sempurna, terlihat seperti nyata, walau sebenarnya itu hanya pura-pura. Pura-pura dalam kenyataan.

Ribuan mata telah tertipu oleh aktingku yang satu ini. Mungkin aku bisa dibilang hebat dan berhak masuk nominasi awards atau mungkin malah berdosa. Walaupun tipuanku ini tidak merugikan siapa pun. Menipu tetaplah menipu.

Ya… Memang aku pun sering tidak sadar dan tertukar antara kepura-puraan dan kenyataan, tapi ketika aku merasakan luka yang telah berevolusi menjadi tetesan air yang keluar dari dua sisi penglihatanku, aku bisa pastikan itu bukanlah akting kepura-puraanku yang direka menjadi sebuah adegan.

Posted by Zaqiun

Siapa orangnya yang gak ingin cinta sejati. Ada yang sedang mencarinya, menunggunya, ada juga yang sedang mencari sekalian menunggu cinta sejatinya. Tapi apakah pernyataan di atas benar kalau “cinta sejati itu sama dengan memberi tanpa harus menerima”

Jadi logikanya kita memberikan sesuatu, tapi tidak mengharap sesuatu itu kembali berupa balasan yang sama ataupun lebih dari yang kita berikan. Aku tidak menyalahkan pernyataan itu, cuma yang aku tahu Tuhan pun tidak hanya menciptakan dunia, tetapi surga dan juga neraka.

Apakah ungkapan bahwa cinta sejati sama dengan memberi tanpa harus menerima itu hanya ungkapan penguat bagi orang-orang, supaya mereka mengerti arti ketulusan. Ataukah ungkapan pertahanan bagi orang yang selalu kalah.

Sekali lagi. Ini Cinta!!!
Cinta itu bukan sepasang lawan kata antara menang dan kalah, bukan dua sedjoli yang satu menunjuk dan yang satu lagi menunduk.

Kadang suatu hubungan bisa berjalan lama bahkan bertahan karena hal itu terjadi. Sepasang kekasih yang di dalamnya terdiri antara egois dan yang teregoisi.

Berarti apakah ungkapan cinta sejati itu sama dengan memberi tanpa harus menerima, keuntungannya diambil oleh sang penunjuk dan kerugiannya menjadi hak sepenuhnya untuk yang tertunduk dalam hal cinta.

Hmm… Ya mungkin oleh sebab itulah ungkapan itu tercipta. Agar yang tertunduk mampu bertahan. Walaupun sebenarnya ungkapan itu bukan untuk dia. Ungkapan itu hadir dan tercipta bukan untuk siapa-siapa, tetapi untuk cinta itu sendiri, hanya untuk menjaga agar cinta itu tetap bertahan tanpa perpisahan.

Posted by Zaqiun

Tanda Tanya

Posted: 9 Februari 2013 in Tercecer Pena

tanda-tanya copy

Sampai saat ini. Aku gak pernah ngerti dengan apa yang terjadi. Pertanyaan demi pertanyaan selalu saja terpentalkan dari otakku.

Semua ini serasa tak masuk akal olehku atau mungkin memang akalku saja yang belum masuk, belum mampu mencernanya.

Tapi logika selalu berkata lain, ini bukan tentang aku, kamu, atau kita. Tapi ini tentang aku, kamu, dan kita di sisi yang lain, yang entah sisi lain itu di mana, aku pun tak pernah tahu.

Aku tak pernah menyalahkanmu, menyalahkan kita, atau pun menyalahkan kondisi, tapi lagi-lagi logika meminta jawaban atas semua itu, lantas apa dan siapa yang harus kusalahkan hanya untuk sekedar menenangkan logika sesaat?

Rasa.
Pantaskah aku menyalahkan rasa? Rasa yang aku punya, rasa yang pernah kamu miliki dulu. Rasa yang dulu sering disebut “kita”

Posted by Zaqiun